Di tengah gempuran industri fast fashion yang serba cepat dan seringkali menyumbang limbah tekstil, hadir sebuah alternatif mode yang bergerak lebih pelan dan menyatu dengan alam. Rina Saraswati, penggerak di balik jenama Daun & Cerita, memilih jalan sunyi tersebut melalui teknik ecoprint.
Ecoprint sendiri merupakan teknik mentransfer warna dan bentuk alami dari daun, bunga, atau batang tumbuhan ke media kain. "Prosesnya sangat organik. Kami mengumpulkan daun-daun yang jatuh di sekitar lereng Gunung Slamet, seperti daun jati, jarak, hingga pakis, lalu merebus atau mengukusnya bersama kain. Tidak ada pewarna sintetis sama sekali," jelas Rina.
Keunikan utama dari produk Daun & Cerita terletak pada eksklusivitasnya. Karena menggunakan daun asli, mustahil untuk mendapatkan dua motif yang sama persis meski menggunakan jenis daun yang sama. Tingkat keasaman tanah tempat pohon tumbuh, musim saat daun dipetik, hingga cuaca saat proses perebusan sangat memengaruhi hasil warna yang keluar di atas kain. Hal ini membuat setiap pembeli pada dasarnya memiliki karya seni tunggal (one of a kind).
Namun, perjalanan Rina tidak langsung mulus. Di tahun pertamanya (2024), puluhan meter kain terbuang karena warnanya luntur saat dicuci. Setelah mempelajari proses penguncian kain (mordanting) menggunakan tawas dan tunjung secara otodidak, kualitas produksinya pun meningkat pesat.
Kini, Daun & Cerita tidak hanya memproduksi kain lembaran, tetapi juga merambah ke hijab sutra, kemeja, hingga tote bag kanvas. Melalui usahanya, Rina berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa tampil modis dan elegan tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Sehelai kain ecoprint bukan sekadar penutup tubuh, melainkan sebuah apresiasi terhadap keindahan alam yang sering kali kita lewatkan.